Hutriselalueksis's Blog











{06/10/2010}   SRIWIJAYA MENJADI SALAH SATU KERAJAAN MARITIM DI INDONESIA

KERAJAAN SRIWIJAYA SEBAGAI SALAH SATU KERAJAAN MARITIM

DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara kepulauan, antara pulau yang satu dengan pulau yang lainnya dipisahkan oleh laut, tapi dalam hal ini laut bukan menjadi penghalang bagi tiap suku bangsa di Indonesia untuk saling berhubungan dengan suku-suku di pulau lainnya. Aktivitas pelayaran bangsa Indonesia sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang kita, berjalan bersamaan dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Wilayah kepulauan Nusantara yang terletak pada titik silang jaringan lalu lintas laut dunia, secara tidak langsung merupakan penghubung Timur dan Barat. Berbagai hasil bumi dari Indonesia merupakan barang-barang yang dibutuhkan oleh pasaran dunia. Hal itu telah mengakibatkan munculnya aktivitas perdagangan dan pelayaran yang cukup ramai dari dan ke Indonesia.

Sejak zaman bahari, pelayaran dan perdagangan antar pulau telah berkembang dengan menggunakan berbagai macam tipe perahu tradisional, nenek moyang kita menjadi pelaut-pelaut handal yang menjelajahi untuk mengadakan kontak dan interaksi dengan pihak luar. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi, pelayaran yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia (Nusantara) pada zaman bahari telah sampai ke Mandagaskar. Bukti dari berita itu sendiri adalah berdasarkan penelitian yang dilakukan yaitu tipe jukung yang sama yang digunakan oleh orang-orang Kalimantan untuk berlayar “Fantastis”. Apa yang terjadi dalam dunia maritim Indonesia pada zaman bahari telah menjadi Trade Mark bahwa Indonesia merupakan negara maritim. Tetapi apakah benar sekarang ini Indonesia merupakan negara maritim? Negara yang mempunyai banyak pulau, luasnya laut, belum menjadi modal utama bahwa negara tersebut adalah negara maritim. Namun, seberapa besar penduduk suatu negara itu berorientasi ke laut, itulah yang menjadi acuan bahwa negara itu adalah negara maritim. Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip pernyataan salah seorang sejarawan kal-sel yaitu bapak Bambang subiyakto dalam tulisannya yang berjudul”Pelayaran, pelabuhan dan perdagangan Banjarmasin 1857-1957” bahwa Indonesia adalah “Negara kepulauan”, Indonesia adalah “Nusantara”, Indonesia adalah “Negara Maritim” dan Indonesia adalah “Bangsa Bahari”,”Berjiwa Bahari” serta “Nenek Moyangku Orang Pelaut” hanya merupakan slogan kata, sloganistis. Suatu hal yang hanya diucapkan belaka oleh manusia Indonesia sejak “Balita” sampai “Manula”. Sebuah pernyataan yang relevan dan sesuai untuk menggambarkan citra dunia maritim Indonesia saat ini. Indoneisa menyandang predikat “Negara Maritim” dan juga “Negara Agraris”. Predikat itu telah ada sejak zaman kerajaan, dimana kerajaan-kerajaan tersebut masing-masing berorientasi ke laut dan juga berorientasi ke pedalaman, dalam hal ini pertanian. Kita bisa bangga, bagaimana kerajan Sriwijaya menjadi kekuatan yang begitu besar dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat di Asia Tenggara, itu semua dikarenakan mereka membangun kekuatan dengan mengembangkan kemaritiman untuk kejayaan Negara. Berikut ini penjelasan tentang Kerajaan Sriwijaya:

  1. 1. Sejarah dan Lokasi

Pengetahuan mengenai sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad ke-20 M, ketika George Coedes menulis karangannya berjudul Le Royaume de Crivijaya pada tahun 1918 M.

Coedes kemudian menetapkan bahwa, Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan. Lebih lanjut, Coedes juga menetapkan bahwa, letak ibukota Sriwijaya adalah Palembang, dengan bersandar pada anggapan Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Source, yang menyatakan bahwa, San-fo-ts‘I adalah Palembang yang terletak di Sumatera Selatan, yaitu tepatnya di tepi Sungai Musi atau sekitar kota Palembang sekarang

2. Sumber Sejarah

Sumber-sumber sejarah yang mendukung tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya berasal dari berita asing dan prasasti-prasasti.

  1. a. Sumber Asing

Sumber Cina

Kunjungan I-sting, seorang peziarah Budha dari China pertama adalah tahun 671 M. Dalam catatannya disebutkan bahwa, saat itu terdapat lebih dari seribu orang pendeta Budha di Sriwijaya. Aturan dan upacara para pendeta Budha tersebut sama dengan aturan dan upacara yang dilakukan oleh para pendeta Budha di India. I-tsing tinggal selama 6 bulan di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta, setelah itu, baru ia berangkat ke Nalanda, India. Setelah lama belajar di Nalanda, tahun 685 I-tsing kembali ke Sriwijaya  dan tinggal selama beberapa tahun untuk menerjemahkan teks-teks Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina.

Catatan Cina yang lain menyebutkan tentang utusan Sriwijaya yang datang secara rutin ke Cina, yang terakhir adalah tahun 988 M

Sumber Arab

Arab, Sriwijaya disebut Sribuza. Mas‘udi, seorang sejarawan Arab klasik menulis catatan tentang Sriwijaya pada tahun 955 M. Dalam catatan itu, digambarkan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar, dengan tentara yang sangat banyak. Hasil bumi Sriwijaya adalah kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala, kardamunggu, gambir dan beberapa hasil bumi lainya.

Sumber India

Kerajaan Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan yang ada di India seperti dengan Kerajaan Nalanda, dan Kerajaan Chola. Dengan Kerajaan Nalanda disebutkan bahwa Raja Sriwijaya mendirikan sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Nalanda

Sumber lain

Pada tahun 1886 Beal mengemukakan pendapatnya bahwa, Shih-li-fo-shih merupakan suatu daerah yang terletak di tepi Sungai Musi, Sumber lain, yaitu Beal mengemukakan pendapatnya pada tahun 1886 bahwa, Shih-li-fo-shih merupakan suatu daerah yang terletak di tepi Sungai Musi.

Pada tahun 1913 M, Kern telah menerbitkan Prasasti Kota Kapur, prasasti peninggalan Sriwijaya yang ditemukan di Pulau Bangka. Namun, saat itu, Kern menganggap Sriwijaya yang tercantum pada prasasti itu adalah nama seorang raja, karena Cri biasanya digunakan sebagai sebutan atau gelar raja.

  1. b. Sumber Lokal atau Dalam Negeri

Sumber dalam negeri berasal dari prasasti-prasasti yang dibuat oleh raja-raja dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti itu antara lain sebagai berikut.

Prasasti Kota Kapur

Prasasti ini merupakan yang paling tua, bertarikh 682 M, menceritakan tentang kisah perjalanan suci Dapunta Hyang dari Minana dengan perahu, bersama dua laksa (20.000) tentara dan 200 peti perbekalan, serta 1.213 tentara yang berjalan kaki.

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti berangka tahun 683 M itu menyebutkan bahwa raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang yang membawa tentara sebanyak 20.000 orang berhasil menundukan Minangatamwan. Dengan kemenangan itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi makmur. Daerah yang dimaksud Minangatamwan itu kemungkinan adalah daerah Binaga yang terletak di Jambi. Daerah itu sangat strategis untuk perdagangan

Prasasti Talangtuo

Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikesetra atas perintah Raja Dapunta Hyang.

Prasasti Karang Berahi

Prasasti berangka tahun 686 M itu ditemukan di daerah pedalaman Jambi, yang menunjukan penguasaan Sriwijaya atas daerah itu.

Prasasti Ligor

Prasasti berangka tahun 775 M itu menyebutkan tentang ibu kota Ligor dengan tujuan untuk mengawasi pelayaran perdagangan di Selat Malaka.

Prasasti Nalanda

Prasasti itu menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai Raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti itu, Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Kerajaan Syailendra. Di samping itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 buah desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda.

Prasasti Telaga Batu.

Prasasti ini Karena ditemukan di sekitar Palembang pada tahun 1918 M. Berbentuk batu lempeng mendekati segi lima, di atasnya ada tujuh kepala ular kobra, dengan sebentuk mangkuk kecil dengan cerat (mulut kecil tempat keluar air) di bawahnya. Menurut para arkeolog, prasasti ini digunakan untuk pelaksanaan upacara sumpah kesetiaan dan kepatuhan para calon pejabat. Dalam prosesi itu, pejabat yang disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui cerat tersebut. Sebagai sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di pusat kerajaan., maka diduga kuat Palembang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya. Prasasti-prasasti dari Kerajaan Sriwijaya itu sebagian besar menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.
3. Kehidupan Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya

Ekonomi

Menurut catatan asing, Bumi Sriwijaya menghasilkan bumi beberapa diantaranya, yaitu cengkeh, kapulaga, pala, lada, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, gading, timah, emas, perak, kayu hitam, kayu sapan, rempah-rempah dan penyu. Barang-barang tersebut dijual atau dibarter dengan kain katu, sutera dan porselen melalui relasi dagangnya dengan Cina, India, Arab dan Madagaskar. Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kamper, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassalnya di seluruh Asia Tenggara.

Politik

Untuk memperluas pengaruh kerajaan, cara yang dilakukan adalah melakukan perkawinan dengan kerajaan lain.  Hal ini dilakukan oleh penguasa Sriwijaya Dapunta Hyang pada tahun 664 M, dengan menikahkan Sobakancana, putri kedua raja Kerajaan Tarumanegara.Saat kerajaan Funan di Indo-China runtuh, Sriwijaya memperluas daerah kekuasaannya hingga bagian barat Nusantara. Di wilayah utara, melalui kekuatan armada lautnya, Sriwijaya mampu mengusai lalu lintas perdagangan antara India dan Cina, serta menduduki semenanjung malaya. Kekuatan armada terbesar Sriwijaya juga melakukan ekspansi wilayah hingga ke pulau jawa termasuk sampai ke Brunei atau Borneo. Hingga pada abad ke-8, Kerajaan Sriwijaya telah mampu menguasai seluruh jalur perdagangan di Asia Tenggara.

Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam sistem pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Ada tiga syarat utama untuk menjadi raja Sriwijaya,   yaitu :

1.      Samraj, artinya berdaulat atas rakyatnya

2.     Indratvam, artinya memerintah seperti Dewa Indra yang selalu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya

3.      Ekachattra, artinya mampu memayungi (melindungi) seluruh rakyatnya

Berikut daftar silsilah para Raja Kerajaan Sriwijaya :

  1. Dapunta Hyang Sri Yayanaga (Prasasti Kedukan Bukit 683 M, Prasasti Talangtuo 684 M)
  2. Cri Indrawarman (berita Cina, 724 M)
  3. Rudrawikrama (berita Cina, 728 M)
  4. Wishnu (Prasasti Ligor, 775 M)
  5. Maharaja (berita Arab, 851 M)
  6. Balaputradewa (Prasasti Nalanda, 860 M)
  7. Cri Udayadityawarman (berita Cina, 960 M)
  8. Cri Udayaditya (Berita Cina, 962 M)
  9. Cri Cudamaniwarmadewa (Berita Cina, 1003. Prasasti Leiden, 1044 M)
  10. Maraviyatunggawarman (Prasasti Leiden, 1044 M)
  11. Cri Sanggrama Wijayatunggawarman (Prasasti Chola, 1004 M)

Sosial dan Budaya

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya Hindu dan kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Sehingga secara langsung turut serta mengembangkan kebudayaan Melayu di Nusantara. Sriwijaya yang merupakan kerajaan besar penganut agama Budha telah berkembang iklim yang kondusif untuk mengembangkan agama Budha. Itsing, seorang pendeta Cina pernah menetap selama 6 tahun untuk memperdalam agama Budha. Salah satu karya yang dihasilkan, yaitu Ta Tiang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan yang selesai ditulis pada tahun 692 M.

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya banyak ditemukan di daerah Palembang, Jambi, Riau, Malaysia, dan Thailand. Ini disebabkan karena Sriwijaya merupakan kerajaan maritim selalu berpindah-pindah, tidak menetap di satu tempat dalam kurun waktu yang lama. Prasasti dan situs yang ditemukan disekitar Palembang, yaitu Prasasti Boom Baru (abad ke7 M), Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talangtuo (684 M), Prasasti Telaga Batu ( abad ke-7 M), Situs Candi Angsoka, Situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa.Peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya lainnya yang ditemukan di jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu, yaitu Candi Kotamahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar batu, Candi Astono dan Kolam Telagorajo, Situs Muarojambi.Di Lampung, prasasti yang ditemukan, yaitu Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk (Jabung). Di Riau, Candi Muara Takus yang berbentuk stupa Budha.

Dan perlu kita ketahui, sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang dikenal sebagai pusat agama Budha sangat dipengaruhi oleh pengunjung-pengunjung muslim, sehingga kerajaan ini menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatra kelak, disaat melemahnya Sriwijaya.Ditenggarai karena pengaruh orang muslim Arab yang banyak berkunjung di Sriwijaya maka, raja Sriwijaya yang bernama Sri Indrawarman masuk Islam pada tahun 718. Sehingga sangat dimungkinkan kehidupan sosial Sriwijaya adalah masyarakat sosial yang di dalamnya terdapat masyarakat Budha dan Muslim pesat dikarenakan kerajaan ini menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis yang terletak di sepanjang Selat Malaka disertai kekuatan armada laut yang kuat. Sriwijaya menjalankan politik bersahabat dengan negara-negara tetangganya, walaupun seringkali pula terjadi perperangan yang tidak terelakkan. Misalnya hubungan persahabatan antara Sriwijaya dengan penguasa Jawa telah terjalin sejak zaman raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Tetapi ada kalanya terjadi pertentangan di antara kedua negara tersebut.

Peristiwa pertikaian tersebut diberitakan oleh utusan dari Jawa yang sedang berada di negeri Cina yang mengatakan bahwa negerinya sedang berperang dengan kerajaan Sriwijaya, sedangkan pada saat yang sama (988 M), utusan dari Sriwijaya yang tengah berada di Kanton (Cina) tetap bertahan di kota ini, karena mendengar berita bahwa penguasa Jawa (raja Dharmawangsa) dengan Sriwijaya tengah berperang.  Penyebab peperangan tersebut karena memperebutkan kawasan lalu-lintas perdagangan di sekitar Selat Malaka yang memang strategis.

Pada waktu wilayah kekuasan Sriwijaya mendapat serangan dari penguasa Jawa, Sriwijaya pernah meminta bantuan pasukan dari kerajaan Chola (Colomandala) di India. Sriwijaya dapat memulihkan kewibawaannya setelah mendapat serangan dari Jawa tersebut serta dapat mengembalikan wilayah kekuasaannya di kawasan Semenanjung Melayu. Serangan Kerajaan Chola
Pada saat pertikaian antara Sriwijaya dengan Jawa, hubungan antara Sriwijaya dengan kerajaan Chola masih baik. Buktinya, sekitar tahun 1005 M, raja Sriwijaya membangun candi Budha di Nagipattana atau Nagapatam di wilayah kekuasaan kerajaan Chola. Hubungan baik yang dibina raja Sriwijaya, Sri Chulamaniwarmadewa, dengan penguasa Chola tidak berlangsung lama. Karena politik Chola terhadap perluasan kekuatan di lautan seperti yang dilakukan kerajaan-kerajaan kuno sebelumnya yang mengulangi cara-cara yang dipakai untuk mempertahankan monopoli perdagangan mereka.
Tahun 1007 M, kerajaan Chola mulai menyerang ke arah timur. Raja Chola mengklaim bahwa mereka telah menaklukan 12.000 pulau. Ketika raja Chola mangkat pada tahun 1014, sang putra kerajaan Rajendra untuk beberapa tahun tetap bersahabat dengan Sriwijaya dan bahkan memperkuat hadiah yang diberikan ayahnya pada Vihara Negapatam yang dibangun oleh Sriwijaya.

Pada awal abad ke-11 Masehi, peta politik di sekitar Selat Malaka mulai berubah, persahabatan antara Sriwijaya dan Chola berubah menjadi permusuhan. Tahun 1023 M, raja Rajendra menyerang kedudukan Sriwijaya di Kadaram dan Kataha. Pada abad ke-11 Masehi itu, tercatat tiga kali serangan Chola kepada Sriwijaya. Dalam serangan Chola tahun 1024, lebih ditujukan kepada daerah Semenanjung Malaka. Tetapi serangan Chola itu tidak sampai menghancurkan sama sekali kejayaan Sriwijaya, karena pasukan Sriwijaya mempunyai daerah pertahanan yang terdiri dari banyaknya anak-anak sungai, kawasan berawa-rawa, dan pulau-pulau di wilayahnya.

Tahun 1025 M, pasukan Chola kembali mengadakan serangan besar yang melemahkan kedudukan Sriwijaya. Sebagian besar tempat-tempat ini terletak di Sumatra atau Semenanjung Melayu, teSriwijaya mulai melemah, negeri Melayu yang selama ini dikuasai Sriwijaya memanfaatkan kesempatan untuk bangkit kembali. Sebuah prasasti yang ditemukan di Srilangka menyebutkan, bahwa pada zaman pemerintahan Vijayabahu di Srilangka tahun 1055 M-1100 M, Pangeran Suryanayana di Malayapura (Melayu) berhasil memegang tampuk pemerintahan di Suwarnadwipa (Sumatra). Hal ini menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-11 Masehi, negeri Melayu telah berhasil memerdekakan dirinya dari kekuasaan Sriwijaya.

Dengan bangkitnya kembali kerajaan Melayu, maka hilanglah kekuasaan kerajaan Sriwijaya atas Selat Malaka, Sriwijaya semakin mundur. Hubungannya dengan negeri Cina pun makin berkurang. Selama abad ke-12 Masehi, Sriwijaya hanya dua kali mengirim utusan ke negeri Cina, yaitu tahun 1156 dan 1178, setelah itu tidak tercatat lagi ada utusan dari Sriwijaya ke negeri tirai bambu ini.

Pemberontakan Candrabhanu dan Faktor lain

Setelah kerajaan Sriwijaya sudah mulai melemah sejak serangan kerajaan Chola, selain bangkitnya kerajaan Melayu, memberi kesempatan kepada tokoh lain untuk muncul, yakni Candrabhanu.
Wilayah kekuasaan Sriwijaya terlalu luas, sehingga pengawasannya tidak mudah. Sebagian ditempatkan di Kedah sebagai pusat perdagangan di Semenanjung Malaka, sebagian lagi di pusat pemerintahan Sriwijaya di Sumatra. Kekuasaan dan kebesaran Sriwijaya setelah berkuasa selama beberapa ratus tahun mulai melemah, tidak mampu menghadapi semangat Candrabhanu yang tengah berkobar. Candrabhanu berasal dari wilayah Tambralingga yang termasuk daerah makmur. Kemakmuran Tambralingga ini merupakan modal Candrabhanu untuk mengejar kebebasan dan kejayaannya. Kemenangan pemberontakan Candrabhanu terhadap Sriwijaya menobatkan dirinya sebagai raja Tambralingga. Kemenangan terhadap Sriwijaya tersebut, mendorongnya lagi untuk merebut Grahi, suatu tempat di ujung barat Semenanjung yang paling dekat dengan Kedah.
Semangat Candrabhanu untuk mengejar kejayaan dan kebesaran, setelah 17 tahun menguasai Grahi, tetap berlanjut. Tahun 1247 M, ia melakukan ekspedisi militer ke Srilangka. Hasilnya, Candrabhanu berhasil menguasai sebagian negeri Srilangka. Tahun 1258 dan 1263, terjadi serbuan dari pihak bangsa Pandya, Candrabhanu kalah dan mengakui kekuasaan bangsa ini.
Sebelum adanya pemberontakan Candrabhanu terhadap Sriwijaya itu, pada tahun 1183 dikenal nama Mahasenapati Galanai sebagai raja bawahan Sriwijaya, maka 50 tahun kemudian, yakni pada tahun Kaliyuga 4332 (1230 M), di tempat yang sama muncul nama Candrabhanu Sri Dharmmaraja (Sandrabanu Sri Dharmaraja). Nama ini tercatat pada Prasasti Ch’ai-ya yang ditulis dalam bahasa Sansekerta.

Pada tahun 1230 M, Candrabhanu mengeluarkan piagam di Grahi dan menyebut dirinya Tambralinggesywara, maka boleh dipastikan bahwa Candrabhanu memberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya. Setelah membebaskan Tambralingga dari kekuasaan Sriwijaya, Candrabhanu mengangkat dirinya sebagai raja Tambralingga dan bergelar Candrabhanu Sri Dharmaraja, kemudian memperluas daerahnya sampai di Grahi. Candrabhanu mengumumkan bahwa ia menjalankan politik-politik Dharmasoka, yakni politik raja Asoka di India. Ia akan berusaha mengembangkan agama Budha. Dengan tegas dinyatakan namanya adalah lambang jasanya kepada segenap manusia. Piagam itu boleh ditafsirkan sebagai proklamasi kemerdekaan negara-negara di pantai-pantai timur Melayu dari kekuasaan Sriwijaya. Timbulnya Candrabhanu berarti patahnya kekuasaan Sriwijaya di Melayu dan juga berakhirnya pemerintahan Dinasti Syailendra di daerah tersebut. Pemberontakan Candrabhanu terhadap kekuasaan Sriwijaya terjadi antara tahun 1225 M dan 1230 M. Untuk menghindari balas dendam Sriwijaya, politik Candrabhanu adalah memperluas wilayah pemberontakan ke seluruh Semenanjung, dan menikam pusat kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung yang terletak di Kedah.

Kedudukan Sriwijaya makin terdesak, karena munculnya kerajaan-kerajaan besar yang juga berkepentingan terhadap jalur-jalur perdagangan maritim, seperti kerajaan Siam (Burma) yang terletak di sebelah utara. Kerajaan Siam memperluas wilayah kekuasaannya ke arah selatan dengan menguasai daerah-daerah di Semenanjung Malaya, termasuk Tanah Genting Kra. Jatuhnya daerah ini mengakibatkan aktivitas pelayaran dan perdagangan di kerajaan Sriwijaya makin berkurang.
Sedangkan dari arah timur juga muncul kekuatan baru, yaitu kerajaan Singasari dari pulau Jawa yang diperintah oleh Raja Kertanegara. Kerajaan Singasari yang bercita-cita menguasai seluruh wilayah Nusantara mengirim ekspedisi militernya tahun 1275 M ke arah barat yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu. Dalam ekspedisi ini, mereka dapat menguasai kerajaan Melayu, Pahang, dan Kalimantan, sehingga kedudukan kerajaan Sriwijaya semakin melemah.
Para pedagang yang melakukan aktivitas perdagangan di kerajaan Sriwijaya kian berkurang, karena daerah-daerah strategis yang pernah dikuasainya jatuh ke dalam wilayah kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Akibatnya, para pedagang yang melakukan penyeberangan ke Tanah Genting Kra atau melakukan kegiatan perdagangan sampai ke daerah Melayu yang sudah dikuasai Singasari, tidak dapat lagi melewati daerah perdagangan di wilayah kekuasaan Sriwijaya yang makin sempit. Keadaan ini mengakibatkan berkurangnya sumber penghasilan kerajaan Sriwijaya.
Munculnya kerajaan Singasari dan kerajaan Majapahit di bumi Jawa sebagai kekuatan besar baru di Nusantara, telah menggantikan kebesaran dan kedigjayaan Sriwijaya yang sebelumnya berkuasa di wilayah Nusantara selama berabad-abad.

Menurut babad Mon, serangan dari kerajaan T’ai, di Sukot’ai-Kamboja, mepada zaman dahulu mencapai kejayan baik dalam bidang politik maupun ekonomi, sekarang ini tidak tampak sedikit pun kemajuan yang dapat dilihat. Ironis memang, Indonesia yang mempunyai potensi laut sangat besar di dunia kurang begitu memperhatikan sektor ini. Padahal, laut menjadi salah satu faktor dalam mempertahankan eksestensi wilayah suatu negara “Bahkan barang siapa yang menguasai laut, ia akan menguasai dunia”, demikian dalil yang dikemukakan oleh Mahan, wajar saja kalau Mahan mengeluarkan pernyataan tersebut, dalam karyanya yang berjudul “The Influence of Sea Power Upon History” (1660-1783), yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1890 dan telah mengalami cetakan ulang beberapa kali, Alfred Thayer Mahan menggambarkan proses pertumbuhan Inggris yang pada abad ke-19 telah menjadi adidaya laut yang menguasai dunia pada waktu itu. Angkatan lautnya disegani dunia, sedangkan armada niaganya menjelajahi seluruh samudera, bangsa yang menguasai daratan betapa pun besar dan kuatnya angkatan daratnya, tidak akan mampu menguasai dunia. Di daratan banyak rintangan berupa gunung, jurang dan sebagainya, sedangkan laut merupakan lapangan yang luas, bebas dan terbuka. Buku Mahan in ternyata berpengaruh sekali terhadap kekuatan-kekuatan dunia pada waktu itu, Inggris semakin meningkatkan kemampuan maritim. Pada akhir abad XIX, Amerika serikat di bawah Theodore Rosevolt, Jerman di bawah kaisar Wilhem II dan Jepang dibawah pemerintahan Meiji mulai membangun kekuatan laut yang besar. Studi Mahan telah membuktikan bahwa bukan jumlah penduduk semata-mata yang membuat suatu bangsa berjaya, melainkan jumlah pendududk yang berorientasikan ke laut dan yang ditopang oleh pemerintah yang memperhatikan dunia Baharinya.

Harus di akui bahwa orientasi ke dunia bahari sudah dimulai sejak kita menerima wawasan Nusantara sebagai dasar pemikiran negara, namun dikalangan banyak pengambil keputusan, wawasan ini masih berupa slogan. Wawasan nusantara setiap jengkal wilayah sama penting, akan tetapi masih banyak pulau belum disentuh, malahan belum ada namanya. Hanya jika sebuah pulau disengketakan oleh negara lain, baru ada upaya untuk memperhatikannya. Sepeti kasus pulau Sipadan dan Ligitan juga kepulauan Ambalat yang berbuntut pada sengketa panas antara Indonesia dengan Malaysia. Agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, hendaknya pemerintah Indonesisa mengambil langkah-langkah untuk segera mengamankan pualu-pulau terluar di Indonesia agar tidak di caplok oleh negara tetangga. Mungkin negara-negara tetangga seperti Malaysia menganggap remeh kekuatan laut kita hingga ia begitu berani keluar masuk perairan Indonesia. Untuk itu sudah saatnya lah kita bangkit, mari bersama-sama membangun kembali dunia maritim Indonesia,menhargai laut dan menjaga eksistensi. Sekarang laut bukan hanya sebagai sumber protein dan tempat pelaut mengadakan hubungan antar pulau. Pertambangan laut dan pemanfaatanya sebagai sumber energi makin banyak dikembangkan, begitu pula usaha wisata bahari. Dengan kata lain, kompleksitas dunia bahari makin berekembang sehingga perlu antisipasi untuk merencanakan masa depan bangsa negara.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: