Hutriselalueksis's Blog











{06/10/2010}   Realitas sosial d bawah kapitalisme

REALITAS SOSIAL DI BAWAH SISTEM KAPITALISME

Keberlimpahan dan persaingan antar individu memang menjadi sebuah fenomena yang tidak lagi menjadi sebuah hal yang aneh di tengah aktifitas masyarakat. Telah menjadi sebuah hal yang berlangsung sangat alamiah dan sah-sah saja tanpa perlu ditawar-tawar. Keberlimpahan tersebut dimanfaatkan kelompok minoritas untuk terus-menerus menyimpan dan menyimpan dan menggerakkan semua daya yang mereka miliki. Baik tenaga  kerja maupun modal. Ingat, semakin banyak orang yang mendominasi sesuatu, maka semakin sedikit orang yang mendapatkan sesuatu tersebut. Sistem Ekonomi yang berbasis persaingan antar individu kini telah membuat umat manusia membangun sekat-sekatnya sendiri. Mereka akan bersikap antipasti terhadap orang lain, dan jelas hal tersebut akan terjadi. Mengapa tidak? Jika yang ada di benak mereka adalah bagaimana menumpuk dan menumpuk kekayaan. Sementara, di sisi lain orang yang ada disekitarnya menjadi kekurangan. Hal tersebut dibenarkan jika kita menggunakan stratifikasi social. Kelas yang ada dalam masyarakat terbagi atas dua, yaitu kelas borjuasi dan proletar sesuai analisa Marx.

Persaingan dalam bidang ekonomi yang dikatakan Smith, menyatakan bahwa persaingan antar beberapa orang saja, akan membawa kesejahteraan terhadap  orang banyak. Sebuah teori using yang setelah beberapa tahu eksis, telah terbukti menjadi sebuah teori usang yang tidak terbukti kebenarannya. Maka sewajarnyalah system ekonomi kita dirombak total dan kembali memikirkan system ekonomi apa yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil serta semua orang demi membangun relasi social. Tanpa adanya sekat dan tanpa hirarki kekuasaan yang di dalamnya penuh dengan kepentingan-kepentingan sesat.

Ada banyak orang yang kemudian tidak pernah berfikir tentang dampak yang diakibatkan oleh system ekonomi berbasis persaingan tersebut. Lihatlah, berapa banyak orang yang kini hidup di bawah garis kemiskinan. Berapa banyak pedagang yang digusur akibat tidak mempunyai modal cukup untuk mempertahankan tempat dagangannya. Lain lagi dengan buruh yang terus dieksploitasi dan telah menjadi komoditi yang siap diperjualbelikan kapan pun serta para petani yang harus bekerja di sawahnya sendiri. Setelah menelaah problematika dari kelas yang memproduksi, maka setelah itu mari kita lihat fenomena social dalam masyarakat secara luas dalam kacamata ekonomi politik. Lihatlah penggusuran yang baru terjadi di Pandan Raya, yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan Magon, belum lagi pedagang kaki lima di pasar Terong yang harus merasa terancam setiap harinya akibat penggusuran dengan alas an pemberdayaan tata kota walaupun mampu bertahan selama 10 tahun sampai sekarang.

Analisa social politik yang ada saat ini seakan-akan menghalalkan keadaan sekarang dengan bermodal aparatur Negara. Kebijakan Undang-Undang dan regulasi pemerintah yang sangat sarat dengan cengkraman Neoliberalisme.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: