Hutriselalueksis's Blog











{06/10/2010}   problematika umat islam

PROBLEMATIKA UMAT ISLAM

Allah dalam Al Quran surah Ali Imran ayat 110 menyebut umat Islam sebagai sebaik-baik ummat (khairu al-ummah) di antara sekian banyak kelompok masyarakat yang ada di dunia. “Kalian adalah khairah ummat yang diturunkan di tengah-tengah manusia…..” Akan tetapi, dengan pengamatan sesaat, kita sependapat bahwa saat ini umat Islam bukanlah umat yang terbaik. Umat Islam mengalami kemunduran di segala lapangan kehidupan baik di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik maupun sains dan teknologi. Yang tampak kini hanyalah sisa-sisa kejayaan Islam di masa lalu.

Problema Utama Umat

Secara fisik, setelah runtuhnya kekhilafahan Utsmani pada tahun 1924, wilayah Islam yang semula terbentang sangat luas mulai dari seluruh jazirah Arab hingga Afrika Utara bahkan sebagian Eropa sampai semenanjung Balkan, sebagian Asia Selatan, Asia Tengah, dan Asia Timur, sebagian besar kalau tidak semua, dikuasai penjajahan Barat (dan Timur). Dan kini, wilayah-wilayah itu menjadi puluhan negara “merdeka” kecil-kecil.

Secara intelektual umat Islam mengalami apa yang disebut Dr. M. Amien Rais (Cakrawala Islam, 1991) sebagai westoxciation (peracunan Barat). Untuk kurun waktu yang cukup lama umat Islam secara sengaja dipisahkan dari ajaran Islam oleh penjajah. Dalam proses alienasi umat Islam dari ajaran agamanya, peracunan Barat semakin gencar berlangsung. Secara intelektual umat Islam menjadi sangat lemah, dan karenanya bukan saja tidak mampu mengkaunter sesat pikir Barat, bahkan juga tidak mampu melakukan dialog intelektual secara seimbang. Impotensi intelektual ini menurut Dr. Amien Rais, jelas bermuara pada kemunduran total di bidang politik yang terjadi semenjak runtuhnya Khilafah Utsmani tadi, yang selama sekitar 500 tahun terakhir dinilai mampu menyatukan umat Islam seluruh dunia di bawah seorang pemimpin atau Khalifah, menegakkan hukum dan peradaban Islam sehingga kesejahteraan melingkupi seluruh masyarakat yang hidup di dalam naungannya. Setelah runtuhnya payung masyarakat Islam ini, bertubi-tubi kaum muslimin didera berbagai persoalan, sebagaimana yang kita lihat hingga sekarang ini.

Semuanya seolah membuktikan kebenaran sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, di mana Rasulullah menceritakan kondisi umat di masa depan. Katanya, “Akan datang di satu masa, dimana kalian dikerumuni dari berbagai arah, bagaikan segerombolan orang-orang rakus yang berkerumun berebut di sekitar hidangan. Diantara para sahabat ada yang bertanya keheran-heranan: “Apakah karena di waktu itu kita berjumlah sedikit, ya Rasulallah?” Rasul menjawab: “Bukan, bahkan jumlah kalian pada waktu itu banyak. Akan tetapi kalian laksana buih yang terapung-apung. Pada waktu itu rasa takut di hati lawanmu telah dicabut oleh Allah, dan dalam jiwamu tertanam penyakit al-wahnu”. “Apa itu al-wahnu?”, tanya sahabat. Jawab Rasulullah: “Cinta yang berlebih-lebihan terhadap dunia dan takut yang berlebih-lebihan terhadap mati“.

Di dunia internasional, kita menyaksikan saudara kita kaum muslimin diantaranya semenanjung Balkan –negeri yang pernah hidup sejahtera selama lebih dari 300 tahun di bawah naungan Khilafah Islamiyah– hingga kini belum lepas dari penderitaan akibat kekejaman pasukan Serbia. Peristiwa yang kurang lebih sama terjadi pula atas kaum muslimin di Chechnya, negara bagian Rusia.

Derita kaum muslimin di Bosnia dan Chechnya seakan melengkapi penderitaan saudara-saudara kita di Palestina. Kendati telah berdamai dengan PLO, tapi kekejaman Israel terhadap penduduk Palestina tidaklah berkurang. Mereka tidak segan tetap membantai dan mengusir penduduk untuk meluaskan pemukiman Yahudi. Posisi kaum muslimin yang berjuang untuk mengusir Israel dan mengembalikan Palestina ke pangkuan Islam semakin terpojok setelah Yordania berdamai dengan Israel. Santer terdengar, negara-negara Teluk tidak lama lagi akan menyusul.

Itulah kondisi sebagian kaum muslimin. Belum lagi kita berbicara tentang keadaan saudara-saudara kita se-iman lain di Jammu Kashmir, Pattani – Muang Thai, Moro – Philipina, dan perang saudara yang tidak kunjung usai di Afghanistan; juga keadaan kita – kaum muslimin di tanah air – yang masih dihimpit persoalan kemiskinan, kebodohan, penggusuran, ketimpangan sosial, ketidakadilan, krisis akhlak, kerusakan moral, pornografi dan sebagainya, makin menegaskan, umat Islam dalam keadaan amat mundur, tidak seperti yang diisyaratkan Allah dalam Al-Qur’an tadi. Serta, keadaannya kurang lebih sama dengan sinyalemen Rasulullah 14 abad yang lalu: umat yang jumlahnya lebih dari 1,2 milyar dicabik-cabik bagai makanan oleh orang-orang rakus tanpa rasa takut. Dan umat tidak bisa berbuat apa-apa.

Semua itu berpangkal pada satu hal: tiadanya kehidupan Islam. Karenanya, menegakkan kembali kehidupan Islam melalui Khilafah Islamiyah di mana di dalamnya diterapkan hukum-hukum Allah inilah, menurut Abdul Qadim Zallum dalam kitab Manhaj, sebagai al-qadhiatu al-muslimin al-mashiriyah (problematika utama umat). Diyakini, hanya melalui jalan itu saja segenap problematika kontemporer umat dapat diatasi dengan cara dan jalan yang jelas, serta kemuliaan Islam dan umatnya (izzu al-Islam wa al-muslimin) dapat diraih kembali.

Umat Mundur, Mengapa?

Tapi mengapa umat Islam mundur? Mengapa umat Islam, yang dikatakan Allah sebagai sebaik-baik umat (khairu al-ummah), berada dalam keadaan yang demikian menyedihkan? Syekh Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya Limadza Ta’akhara al-Muslimun wa Taqaddama Ghaiyruhum – Mengapa Umat Islam Mundur dan Selain Mereka Maju ?, melihat ada dua faktor penyebab kemunduran umat Islam, yakni faktor eksternal atau yang datang dari luar umat, dan faktor internal atau faktor yang datang dari dalam diri umat Islam.

Pertama, yang dimaksud faktor eksternal penyebab kemunduran umat adalah gencarnya serangan dari luar umat. Musuh-musuh Islam, yakni orang yang tidak menyukai kebenaran Islam tegak di muka bumi, senantiasa mencabik-cabik persatuan umat, dijauhkannya umat Islam dari agamanya, dibuatnya umat Islam lebih terikat kepada suku atau bangsanya sendiri ketimbang terhadap Islam. Langkah ini ditempuh mereka dengan menyebarkan pemikiran (fikrah) sekularisme ke tengah umat Islam secara samar atau terang-terangan, dengan lidah mereka atau lidah tokoh umat Islam. Akibatnya, umat Islam mengalami keterasingan terhadap agamanya sendiri, dan kendati umat Islam dalam berbagai negara kini telah merdeka, lepas dari belenggu penjajahan, tapi pemikirannya tetaplah terjajah.

Penjajahan (isti’mar) atau imperialisme, yakni penguasaan (pengendalian) di bidang politik, militer, kebudayaan, ekonomi menurut Syekh Taqiyyudin an Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasiah, adalah metode (thariqah) yang ditempuh oleh negara Kapitalis Barat (Eropa dan Amerika Serikat) untuk menyebarkan ideologinya, yakni sekularisme tadi. Paham semacam inilah yang kini tengah dan hendak terus disebarkan ke seluruh dunia, termasuk ke negeri-negeri muslim. Tujuannya, bila orang telah mengikuti pahamnya tentu dengan mudah dikuasai dan pada akhirnya segala kepentingan negara penguasa dengan mudah pula dapat diujudkan. Inilah hakekat al-ghazwu al-fikriy (perang pemikiran) yang menyebarkan racun sesat pikir Barat (westoxciation) melengkapi al-ghazwu al-’askariy (perang militer).

Penjajahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kapitalisme. Dan ini, menurut Syekh Taqiyyudin bersifat tetap, kendati bentuk negara, hukum dan pemerintahan yang dihadapinya berbeda-beda. Yang berubah-ubah hanyalah cara atau uslub yang ditempuh serta obyek atau sasaran penjajahan. Setelah komunisme runtuh, Barat melihat Islamlah yang secara potensial akan menjadi rival yang baru. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar (lebih dari 1,2 milyar orang), potensi sumber daya alam terutama minyak yang tak tertandingi, serta posisi geografis yang strategis, dunia Islam sangat mungkin menjadi adikuasa baru menggantikan dunia Timur.

Di masa sebelum dan seputar Perang Dunia I dan II, yang dilakukan Barat adalah penjajahan militer. Negeri-negeri Islam yang semula bersatu, terutama setelah runtuhnya Khilafah Utsmani, tercabik-cabik. Sebagiannya, lama sebelum itu malah telah diduduki negara-negara imperialis. Diantaranya, Aljazair oleh Perancis; Irak, India, Palestina, Yordania, Mesir, dan negara-negara teluk oleh Inggris; dan sebagainya. Kini setelah negara tersebut merdeka, negara-negara Barat tetap berusaha menjajah dengan cara yang baru. Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan melalui pinjaman dana. Dengan dalih membantu negara berkembang, mereka meminjamkan uang dalam jumlah besar. Belakangan terbukti hutang itu bukan mengentaskan kemiskinan negara tersebut, melainkan malah menambah miskin.

Dengan ketergantungan di bidang ekonomi yang demikian besar, negara Barat dapat memaksakan kemauan politiknya atas suatu negara. Negeri-negeri tersebut, termasuk negeri Islam, menjadi tidak merdeka secara politik. Dengan tekanan politik AS, para pemimpin negara-negara berkembang “merdeka” (tanda petik, karena pada hakekatnya terjajah) tak ubahnya boneka yang siap menjalankan perintah tuannya. AS akan mendukung sepanjang para pemimpin tersebut setia kepada kepentingan AS. Dan bukan rahasia, AS tega menggulingkan kepala negara yang tidak lagi loyal kepadanya. Noriega, presiden Panama – bekas agen CIA semasa George Bush menjadi direktur, digelandang seperti pelaku kriminal setelah mengancam kepentingan AS di Panama. Raja Faisal dibunuh karena terlalu berani melawan Barat. Sementara, Ghadafy juga Saddam Hussein, kendati cukup bandel, tetap dipertahankan lantaran masih cukup efektif untuk mencegah munculnya gerakan Islam. Kemenangan secara demokratis yang diraih FIS dalam pemilu 1992 di Aljazair secara obyektif dihentikan Barat secara tidak demokratis, karena khawatir kemenangan itu akan menyulitkan kepentingan Barat di kawasan Afrika Utara. Karena tekanan itu pula, bisa dipahami mengapa tidak satupun negeri-negeri Islam terbukti mampu mengambil langkah “cukup berarti” untuk menyelesaikan krisis Palestina.

Di bidang kebudayaan, Barat juga melancarkan perang kebudayaan (al-ghazwu al-tsaqofiy). Globalisasi informasi yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi komunikasi bak pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan, karena dengan demikian peristiwa-peristiwa dari berbagai belahan dunia dengan cepat dapat kita ketahui, tetapi pada sisi lain terjadi pula gelombang arus budaya Barat ke negeri-negeri Islam. Munculnya TV swasta di negeri ini mempercepat berkembangnya budaya Barat. Saban hari keluarga-keluarga Islam dicekoki dengan gaya hidup, perilaku dan cara berpikir Barat. Tambahan lagi, berita-berita yang ditayangkan TV hampir seluruhnya bersumber dari kantor berita atau TV Barat yang tentu tidak lepas dari kepentingan-kepentingan Barat, mengingat berita tetaplah merupakan “realitas tangan kedua” (second-hand reality) yang terkadang manipulatif. Satu tentara Israel yang ditawan pejuang Palestina menjadi pusat perhatian dunia lantaran diberitakan besar-besaran; dan segera tampak, orang Palestina telah melakukan tindak kriminal. Sementara, pemboman Israel, pembantaian di tengah pemukiman penduduk dikecilkan beritanya, sehingga terlihat sebagai kejadian biasa. TV telah menjadi guru agen Pembaratan yang tangguh. Tak heran bila kemudian anak-anak muslim lebih mengenal Superman, Power Rangers atau Bon Jovi ketimbang tokoh-tokoh Islam. Sadar atau tidak, mereka telah terbaratkan (westernized) dan kehilangan identitas kepribadian Islamnya. Itu semua sedikit banyak berpengaruh kepada cara berfikir, pemihakan, keprihatinan dan perilaku kaum muslimin. Apa yang dari Barat dinilai baik dan modern, serta apa yang dilakukan juga mesti benar.

Disamping menyebarkan pemahaman-pemahaman sesat yang menjauhkan umat Islam dari agamanya, musuh-musuh Islam juga secara langsung melakukan makar untuk menghancurkan Islam. Dan untuk ini mereka tidak sungkan-sungkan memanfaatkan PBB dan kedudukannya di Dewan Keamanan PBB. Dengan legalitas PBB, AS dan sekutunya menyerbu Irak yang telah menganeksasi Kuwait dan menghukumnya dengan embargo total. Dengan alasan untuk mencegah meluasnya perang, lagi-lagi atas nama PBB, Barat ketika konflik tengah berkecamuk melakukan embargo senjata terhadap Bosnia. Tapi terlihat bahwa inti dari semua manuver di atas adalah kehendak negara-negara Barat untuk melenyapkan umat Islam di beberapa wilayah. Sebab, bila memang ingin menyelesaikan krisis Bosnia, mengapa negeri-negeri Barat tidak segera saja mengusir Serbia dari Bosnia seperti ketika mereka mengusir Irak dari Kuwait? Mengapa pula mereka justru memberlakukan embargo senjata atas Bosnia? Tindakan aneh ini – mengingat Bosnia adalah pihak yang diserbu oleh Serbia – tak ubahnya mengikat kaki dan tangan Bosnia, sementara Barat membiarkan Serbia memukuli sepuasnya. Bantuan makanan dan obat-obatan yang diberikan kepada rakyat Bosnia menjadi sekedar menambal rasa lapar dan mengobati luka untuk selanjutnya siap menerima pukulan dan gempuran Serbia lagi.

Maka, segeralah tampak kejanggalan “kebijaksanaan” politik Barat atas negara-negara berkembang, khususnya bila itu menyangkut negeri Islam. Bila Barat begitu semangat mengusir Irak dari Kuwait dan menghukumnya hingga sekarang, mengapa terhadap Israel yang telah menduduki wilayah yang tidak sah dan Serbia yang telah menyerbu Bosnia, mereka tidak mengambil tindakan apa-apa? Padahal terdapat sekian resolusi PBB yang menghendaki Israel mengundurkan diri dari daerah pendudukan. Mengapa mereka tidak melaksanakan amanat PBB ini? Dan mengapa pula embargo dan larangan memiliki senjata non-konvensional dijatuhkan hanya terhadap Irak, tapi tidak terhadap Israel dan Serbia yang telah melakukan kejahatan serupa? Perang Teluk telah 5 tahun berlalu, mengapa embargo yang menyengsarakan seluruh rakyat Irak tetap juga tidak dicabut hingga sekarang? Mengapa pula logika terhadap Bosnia terbalik, bukannya Bosnia diberi kebebasan untuk mempertahankan diri, alih-alih dibantu, melainkan malah diembargo? Demikian pula dalam kasus Chechnya, apa dosa mereka sehingga Rusia menggempurnya? Alasan resmi menyatakan, Chechnya yang telah menyatakan merdeka diserbu karena dinilai telah melanggar konstitusi. Tapi mengapa itu baru dilakukan sekarang, setelah 3 tahun Chechnya menyatakan merdeka tahun 1991? Dan pihak Barat yang selama ini dianggap kiblat demokrasi, mengapa diam melihat tindakan yang amat tidak demokratis itu? Juga, mengapa mereka yang menyatakan diri pejuang hak asasi manusia tidak mengambil tindakan apa-apa terhadap langkah Rusia yang jelas-jelas melanggar hak penduduk muslim Chechnya untuk menentukan nasibnya sendiri? Ribuan orang meninggal di sana, sama seperti di Bosnia, tanpa mereka pedulikan. Sementara, atas kasus Dili yang “hanya” puluhan orang meninggal mereka ribut seperti orang pikun kebakaran jenggot!

Dalam hal ini, perundingan, konferensi atau apapun namanya, sesungguhnya tidaklah terlalu bermanfaat karena langkah diplomasi hanyalah bagian dari skenario politik. Sementara, politik adalah kepentingan; dan kepentingan Barat adalah hegemoni. Maka yang baik bagi mereka adalah yang menguntungkan kepentingannya, dan yang buruk adalah yang sebaliknya. Tidak soal bila untuk itu mereka harus berstandar ganda (double standard) seperti yang tampak pada beberapa contoh di atas. Oleh karenanya mengharap kejujuran dari mereka adalah perbuatan sia-sia.

Kedua, faktor internal. Inti dari faktor internal penyebab kemunduran umat, menurut Syaqib Arsalan, adalah kenyataan bahwa banyak umat Islam yang justru telah meninggalkan ajaran Islam. Kemunduran pemahaman umat terhadap agama Islam itu timbul terutama karena umat tidak lagi dibina keIslamannya secara praktis semenjak tidak adanya kehidupan Islam. Akibatnya, tidak sedikit diantara kaum muslimin yang, jangankan mengamalkan dan memperjuangkan, memahami ajaran Islam pun mungkin tidak. Ia muslim, tapi tak ada bedanya dengan orang non muslim karena kemuslimannya tidak nampak dalam cara hidupnya sehari-hari. Atau banyak pula umat yang melaksanakan ajaran Islam tapi cuma sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Melaksanakan ibadah dan meninggalkan masalah muamalah. Umat Islam memang banyak telah terpengaruh pemikiran sekularisme.

Apa itu sekularisme?

Menurut Muhammad Qutb (Ancaman Sekularisme, 1986) sekularisme diartikan sebagai iqomatu al-hayati ‘ala ghayri asasin mina al-dini (membangun struktur kehidupan di atas landasan selain agama Islam). Sekularisme pada intinya menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Artinya, agama hanyalah merupakan, dan dijadikan urusan individu dengan tuhannya. Sementara, dalam mengatur masyarakat tidaklah diambil dari hukum agama.

Pemikiran sekularisme, masih menurut Muhammad Qutb, sesungguhnya berasal dari sejarah gelap Eropa Barat di abad pertengahan. Saat itu, kekuasaan para agamawan (rijaluddin) yang berpusat di gereja demikian mendominasi hampir semua lapangan kehidupan, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuwan dan politikus melihat kondisi ini sangat menghambat kemajuan, sebab temuan-temuan ilmiah yang paling rasional pun tidak jarang bertabrakan dengan ajaran gereja yang dogmatis. Galileo Galilei dan Copernicus yang menolak mengubah pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet, bukan bumi seperti yang didoktrinkan gereja selama ini, dihukum. Maka sampailah para ilmuwan dan politikus itu pada satu kesimpulan bahwa bila ingin maju, masyarakat harus meninggalkan agama; atau membiarkan agama tetap di wilayah agama (ritual), sementara wilayah duniawi (politik, pemerintahan, saintek, ekonomi) harus steril dari agama. Inilah cikal bakal sekularisme.

Tapi satu hal yang harus diinsyafi, bahwa gugatan ini terjadi khas terhadap agama Nashrani, yang ketika itu memang sudah tidak lagi up to date. Tentu sebuah keanehan besar bila gugatan itu lantas dialamatkan pula pada Islam, agama sempurna lagi paripurna yang diridhai Allah sebagai agama seluruh manusia. Lebih aneh lagi bila kaum muslimin ikut-ikutan menjadi sekuler.

Pemikiran semacam ini jelas bertentangan dengan Islam yang datang justru untuk mengatur kehidupan manusia dalam semua aspek, dan membawa kerahmatan tidak saja bagi umat Islam tapi bagi seluruh manusia. Islam jelas tidak mengenal pemisahan antara urusan ritual dengan urusan dunia. Shalat adalah ibadah yang merupakan bagian dari syariat dimana seluruh umat Islam harus terikat, sebagaimana keterikatan kaum muslimin pada syariat di bidang ekonomi, misalnya. Seluruh gerak laku seorang muslim adalah ibadah. Islam adalah sebuah totalitas ketundukan muslim pada kehendak Allah dalam semua sendi kehidupan (2:208). Dan merupakan tindak kekufuran beriman kepada ajaran Islam sebagian dan menolak sebagian yang lain, sebagaimana firman Allah:

Apakah engkau beriman kepada Al Qur’an sebagian dan kufur kepada sebagiannya yang lain. Dan tidaklah ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu, kecuali kehinaan kehidupan di dunia, dan di akhirat akan mendapatkan siksa yang pedih” (Al Baqarah 85)

Bila Islam tidak lagi dijadikan sebagai asas pengaturan struktur kehidupan (siyasiy), maka sebagai gantinya munculah asas-asas lain yang mengatur berbagai bidang kehidupan umat. Diantaranya adalah:

Kapitalisme di bidang ekonomi

Hampir seluruh negara di dunia, terlebih setelah runtuhnya sosialisme-komunis Uni Sovyet, menganut paham kapitalisme sebagai sistem ekonominya. Dari segi praktis, kapitalisme memang telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan material luar biasa. Negara di dunia yang maju secara material umumnya adalah negara kapitalis. Tapi dalam soal pemerataan, kapitalisme ternyata gagal. Contoh nyata Indonesia. Dengan garis kemiskinan 500 rupiah perhari, terdapat 28 juta rakyat miskin di Indonesia. Tapi bila garis itu dinaikkan menjadi 1000 rupiah perhari (sebab apa yang bisa diperbuat dengan uang 500 rupiah perhari), ternyata terdapat 120 juta rakyat miskin; 20 juta di kota, dan sisanya di desa. Setelah krisis ekonomi, jumlah orang miskin pasti semakin banyak karena GNP Indonesia melorot drastis hingga sekitar 300 dollar AS. Tapi itu tidak sendirinya mencerminkan kemakmuran rakyat, karena angka 300 bisa saja didapat dari rata-rata dua ekstrem. Dan agaknya itulah yang sebenarnya terjadi. Di negeri ini ada seseorang yang hobinya mengoleksi jam tangan berharga 5 milyar rupiah tiap biji, disaat berpuluh-puluh juta rakyat harus mengais-ngais untuk mendapatkan 1000 rupiah sehari! Sementara, dunia usaha swasta makin dicengkeram oleh segelintir orang secara monopolis dan kolusif merambah ke segala arah, termasuk pada sektor publik yang semestinya hanya dikelola oleh negara.

Yang lebih gawat lagi, sistem kapitalisme juga telah gagal “memanusiakan manusia”. Keresahan spiritual yang kini tengah menjangkiti Jepang, bisa sebagai bukti. Kemakmuran material memang diberikan, tapi kapitalisme telah menjadikan manusia budak harta, dan mereduksinya menjadi setengah manusia bahkan lebih rendah dari hewan. Kapitalisme menyeret manusia pada pola “asas manfaat” dalam memperoleh harta (asbab al-tamalluk), menggunakan (infaqu al-mal) dan mengembangkannya (tanmiyatu al-mal). Asas itu mengajarkan bahwa yang baik adalah yang memberikan manfaat (materi dan kenikmatan jasmani), tidak peduli apakah itu akan menurunkan derajat kemanusiaannya atau tidak (seperti tampak pada bisnis prostitusi, entertainment, judi dan sebagainya). Nilai-nilai Islam dengan tolok ukur halal dan haram, oleh karenanya menjadi barang asing dan terasa aneh. Umat yang telah terbiasa bergaul dengan sistem ekonomi ribawi, tentu merasa aneh ketika diserukan untuk menjauhi riba. Demikian pula dengan riswah dan komisi, sepertinya sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari derap perekonomian negara. Kapitalisme telah merusak umat: fisik dan non fisik. Kehidupan hedonistik, konsumtif dan meterialistik makin menggejala. Kapitalisme memunculkan berhala baru di era jahiliahisme modern: uang.

Westernisme dengan Inti Amoralisme di Bidang Budaya

Di bidang budaya, kehidupan hedonistik sebagai buah dari kehidupan yang materialistik makin menjadi ciri masyarakat. Dalam hal ini Barat seolah menjadi kiblat “kemajuan” – kearah mana masyarakat harus menengok. Musik, mode pakaian, makanan, film dan gaya hidup Barat – apalagi setelah adanya TV swasta – makin menggejala. Kaum muslimin yang tidak memiliki kepribadian kuat mudah sekali tercemar, dan memunculkan pribadi yang terpecah (split personality). Ia muslim, tapi tingkah lakunya seperti artis Barat yang sering ia lihat di layar kaca. Benar, ia memang pengikut Nabi Muhammad, hanya saja idolanya bukan lagi Nabi tapi Bon Jovi. Dan bukan Al Quran yang dihafal tapi bait-bait lagu yang diteriakkan Bon.
Penampilannya juga serupa benar dengan idolanya itu. Rambutnya gondrong, jelananya jeans belel, dan tak lupa anting di telinganya. Yang wanita, pakaiannya juga selalu tampak modis. Malu hati rasanya bila tidak mengikuti arus mode, kendati untuk itu ia harus berpakaian setengah telanjang. Dan itu tentu saja termasuk bagaimana mengatur rambut agar selalu nampak “in”. Lantas bagaimana cara mereka bergaul? Tidak sulit. Film Melrose Place atau Beverly Hills 90210 yang hadir seminggu sekali lewat layar kaca telah lebih dari cukup mengajarinya. Atau iklan – yang telah menjadi nafas kapitalisme – telah pula menghembuskan budaya hedonistik dan mencitrakan gaya hidup baru. Iklan makanan coklat, atau minuman ringan seolah-olah menunjukkan begitulah kira-kira cara pergaulan remaja “modern”. Maka, jadilah ia seorang muslim dengan gaya hidup si Boy: rajin shalat, rajin juga maksiyat.

Nasionalisme di bidang politik

Nasionalisme diartikan oleh Hans Kohn (dalam Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Islam, 1986) sebagai “suatu keadaan pada individu di mana ia merasa bahwa pengabdian yang paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah air”. Nasionalisme mengunggulkan paham kebangsaan sekaligus mensubordinasikan paham lain, termasuk aqidah Islam. Bagi seorang nasionalis, bangsa adalah segala-galanya, dan tidak ada yang lebih penting dari upaya meraih kejayaan bagi bangsanya. Kematian demi bangsa adalah setinggi-tinggi kemuliaan. Paham ini sebenarnya kosong tanpa substansi, kata Syekh Dr. Muhammad Ghazali dalam Mi’ah Su’al ‘ani al-Islam, – sebab apa arti “cinta pada tanah air”, “mengabdi pada bangsa dan negara” sementara apa yang disebut “tanah dan air serta bangsa dan negara” sesungguhnya tidaklah pernah ada. Ia hanya merupakan dzat rekaan yang bersifat abstrak dan tentu tidak pernah memberikan manfaat kepada yang “mencintainya” ataupun mudharat kepada yang “mengkhianatinya”. Tapi kendati begitu, paham ini kini telah merasuk demikian dalam pada tubuh umat dan telah menjadi biang perpecahan umat Islam seluruh dunia.

Bagi seorang muslim jelas, pengabdian hanyalah kepada Allah semata (6:162). Tidak ada pengabdian selain kepada Allah, dan ujud pengabdian itu berupa ketaatan kepada segenap perintah dan laranganNya. Bila segenap aktifitas hidup didedikasikan semata untuk menjalani aturan Allah, itulah yang disebut ibadah. Inilah semulia-mulia kehidupan, dan ini pula yang disebut pengabdian. Islam memang mengakui adanya keragaman suku dan bangsa (49:13). Tapi Islam menentang keras sukuisme dan nasionalisme. Tentang ini Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud, “laysa minna man da’a ila ‘ashabiyah, wa laysa minna man qatala ‘ala ‘ashabiyah wa laysa minna man mata ‘ala ‘ashabiyah“.

Nasionalisme menyebabkan kaum muslimin merasa lebih terikat kepada bangsanya masing-masing ketimbang pada Islam. Ia rela keyakinan agamanya dikorbankan demi keutuhan bangsanya. Ia juga merasa lebih bersaudara dengan sebangsanya ketimbang dengan yang seaqidah. Penderitaan muslim Bosnia akan dirasakan sebagai persoalan bangsa Bosnia; bukan persoalan kaum muslimin. Ia lebih peka terhadap persoalan yang akan “mengancam bangsanya” ketimbang mengancam umat Islam. Ia mudah saja bergaul dengan orang atau negara kafir hanya semata itu menguntungkan bangsanya, kendati itu menindas umat Islam. Juga teramat jelas, nasionalisme menghambat persatuan umat Islam sedunia. Dari sini bisa dimengerti mengapa umat Islam, termasuk yang berada di Timur Tengah, sulit sekali bersatu untuk misalnya, melawan Israel. Ketika nampak kepentingan nasionalnya terpenuhi, mereka merasa konflik dengan Israel sudah selesai. Mesir kini berdamai dengan Israel setelah gurun Sinai kembali ke pangkuannya. Begitu juga Yordania. Tidak peduli bahwa hingga saat ini tanah Palestina masih dikuasai Israel dan kaum muslimin di sana masih menderita akibat penindasan zionisme. Organisasi semacam OKI, Liga Arab atau semacamnya tak mampu berbuat banyak dalam menggalang persatuan umat, karena negara anggotanya lebih mengedepankan kepentingan nasionalnya masing-masing. Nasionalisme juga berdampak sangat serius di bidang hukum. Bagi seorang nasionalis, hukum yang layak adalah hukum nasional bukan hukum agama apalagi dari satu agama. Dalam soal ini, semua agama harus disamadudukkan (sinkretisme).

Sinkretisme di bidang agama

Paham nasionalisme tidak akan tegak tanpa disertai penyebaran paham sinkretisme yang intinya “menyamadudukkan semua agama”. Sinkretisme sebagai anak cabang pemikiran sekuler berdiri di atas tiga doktrin. Pertama, dikatakan bahwa kebenaran agama itu bersifat subyektif. Artinya, suatu agama pasti dinilai paling benar oleh pemeluknya masing-masing. Agama lain salah. Karena semua agama bersifat demikian, maka seseorang tidak mungkin dipaksa mengikuti aturan selain yang menjadi agamanya. Semua agama harus dipandang sama kedudukannya. Kedua, sebagai konsekuensi dari doktrin yang pertama, maka suatu agama tidak boleh mendominasi agama yang lain. Sebab, itu berarti harus memaksa seseorang untuk mengikuti aturan yang berasal dari bukan agamanya. Ketiga, maka oleh karenanya untuk mengatur kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai pemeluk agama, diperlukan aturan bersama yang dinilai mampu mengadaptasi semua agama yang berkembang di tengah masyarakat tersebut.

Pemikiran sinkretisme menyebabkan sebagian umat Islam “memandang rendah”, bahkan “tidak suka, menjauhi dan memusuhi” aturan agamanya sendiri. Ia merasa menjadi orang modern bila turut beranggapan bahwa aturan-aturan masyarakat yang “demokratis dan aspiratif” adalah yang lepas dari agama yang ada, termasuk Islam. Tidak lupa ia turut mengecam aturan Islam sebagai “ketinggalan jaman, kejam, tidak manusiawi serta tidak cocok untuk masyarakat plural”, hanya karena aturan Islam diturunkan empat belas abad lalu di negeri Arab yang secara sosiologis katanya berbeda dengan tanah airnya. Disebut toleransi – dan itu sebuah kemuliaan – bila orang mau mengerti aspirasi agama lain.

Dengan bersikap demikian, sadar atau tidak, kendati muslim sesungguhnya ia telah menjadi lawan dari agama Islam. Ia telah terjerumus demikian jauh di jurang kesesatan. Ia lupa, seorang muslim harus meyakini hanya Islam saja yang benar dan diridhai Allah (3:19/5:3). Beragama selain Islam tidak akan diterima Allah dan di akhirat akan merugi (3:85). Terhadap agama lain sikap yang harus diambil adalah dakwah, yakni mengajak pengikutnya agar memeluk Islam, sebagaimana ajakan Rasulullah dalam suratnya kepada Heraclius: “Aslim, taslam“. Perlu diingatkan pula bahwa Islam adalah agama untuk semua manusia (34:28) yang bila ditegakkan akan membawa kebaikan bersama (21:107). Fakta sejarah di masa lalu ketika Islam berkuasa di berbagai wilayah, misalnya di Irak, Mesir, Spanyol dimana komunitas non Muslim juga hidup sejahtera di dalamnya, menunjukkan hal itu. Islam pasti tidak akan ketinggalan jaman, karena ia diturunkan oleh dzat yang Maha Mengetahui dan telah ditetapkan sebagai agama terakhir. Menyatakan Islam “tidak cocok” untuk masyarakat yang hidup 14 abad kemudian, sama saja menuduh Allah tidak tahu akan perkembangan masyarakat di masa depan serta tidak tahu bagaimana mengaturnya.

Akibat sinkretisme, sebagai komunitas mayoritas, umat Islam tidak merasa apa-apa menyaksikan bagaimana kehidupan tidak diatur dengan Islam. Ia bangga bebas dari penjajahan, tapi sedikit pun tidak merasa risi menggunakan hukum bekas penjajah Belanda. Ia tidak juga segera sadar akan kekeliruan pemikirannya kendati kenyataan menunjukkan, aturan bersama yang ada tidaklah mampu membawa masyarakat kepada kebaikan. Berbagai problematika (di bidang ekonomi muncul kesenjangan, harga melambung, monopoli dan sebagainya; di bidang sosial meningkatnya kriminalitas, kerusakan moral, berkembangnya budaya barat dan sebagainya) yang silih berganti muncul di tengah masyarakat, bahkan mungkin dia termasuk salah satu korbannya, tidak cukup mengingatkan bahwa Islam adalah solusinya. Sinkretisme telah membuatnya buta.

Kontradiktif

Semua asas pengaturan kehidupan di atas tidaklah muncul dari satu kesatuan pemikiran. Tapi sekedar berdasarkan manfaat, yang diduga mungkin atau bisa diperoleh di bidangnya masing-masing. Oleh karenanya, sekularisme pada tataran praktis banyak sekali menimbulkan kontradiksi di tengah masyarakat. Di bidang pendidikan, satu sisi diinginkan siswa yang berpribadi luhur, kuat agamanya, tapi tidak ada atau sedikit sekali langkah ke arah itu. Misalnya, apa yang bisa diharap dari pelajaran agama 4 sks sampai tingkat sarjana di perguruan tinggi?. Ketika para siswi ingin mewujudkan perintah agama (misalnya memakai jilbab atau duduk terpisah laki dan perempuan di kelas), ternyata dihambat dan malah dituduh ekstrem, fanatik serta tuduhan lainnya yang menyakitkan.

Di bidang budaya, satu sisi diinginkan masyarakat yang mulia, dengan remajanya yang berkepribadian teguh, tapi di sisi lain tontonan di TV, bioskop merajalela penuh dengan kemaksiyatan disertai ajakan seks dan pergaulan bebas dengan tari dan nyanyi yang tidak jelas apa maunya. Satu sisi polisi mengeluhkan akibat alkoholisme, dan kemudian membuat operasi menyapu minuman itu di warung-warung, tapi industri minuman keras jalan terus hanya karena alasan cukai dan tenaga kerja. Satu sisi menginginkan pemerataan, tapi sisi lain monopoli swasta makin mencengkeram termasuk pada sektor publik. AIDS diperangi, tapi kompleks WTS tetap dibiarkan laris. Katanya negara berdasarkan pada ketuhanan, tapi begitu banyak aturan negara yang menyimpang dari aturan Tuhan. Bila demikian lantas tuhan yang mana yang dimaksud oleh penduduk mayoritas negeri ini? Juga, mengapa mereka yang memperjuangkan tegaknya aturan tuhan, sesuai asas tadi, malah dituduh subversif? Qira’ah al-Qur’an dilombakan dalam MTQ, khatnya ditulis indah-indah, tapi ajarannya diabaikan.

Lantas Bagaimana?

Ditinggalkannya aturan Islam dalam pengaturan kehidupan baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi maupun politik terbukti telah memundurkan umat dan menjadikan umat hidup dalam kehinaan di mana-mana. Sekarang umat Islam di seluruh dunia merasakan nasib yang malang dan menangisi kekalahan yang sangat mengerikan, yang belum pernah dialami oleh umat Islam di masa lalu. Umat telah kehilangan kemuliaannya. Seharusnya umat Islam bisa tampil mangatur kehidupan manusia di dunia secara keseluruhan bukan yang diatur; tampil memimpin bukan yang dipimpin. Seharusnya umat Islam menguasai bukan dikuasai. Umat Islam sepertinya tidak punya daya kemampuan sama sekali.

Secara faktual, potensi 1,2 milyar umat Islam demikian besar. Tetapi kenyataannya umat sebanyak itu berserak seperti buih, lemah tak bertenaga. Sumber daya alam yang ada juga tidak bermanfaat banyak demi kemajuan Islam. Umat tetap terbelakang, tercabik-cabik dan menjadi bulan-bulanan negara-negara besar seperti yang sekarang ini tengah terjadi. Apa yang bisa diperbuat untuk saudara kita di Palestina, Chechnya dan Bosnia? Demikian sulitnyakah mengusir Israel yang berpenduduk hanya sekitar 7 juta dari bumi Palestina? Bagaimana mungkin, umat yang jumlahnya semilyar lebih keok melawan negeri yang berpenduduk lebih sedikit dari kota Jakarta?

Tapi kalau kita renungkan secara mendalam, nasib buruk ini ternyata lebih karena keteledoran umat Islam sendiri; bukan karena musuh Islam. Umat Islam harus menyadari bahwa rumah mereka sendirilah dalam keadaan lemah, tak terpelihara kesehatannya, sehingga tatkala penyakit datang mudah sekali ia berkembang dan membikin lumpuh tubuh yang seharusnya kuat itu. Oleh karenanya, tidak ada alasan untuk terus menerus menggerutu, atau hanya mencaci maki orang lain. Hukum alam tidak pernah berubah. Siapa yang unggul dialah yang memimpin. Dan yang membuatnya unggul adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain.

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah apa yang ada diri mereka sendiri“(Ar Ra’du:11)

Jadi jelaslah hanya ada satu cara untuk keluar dari kemelut ini: umat Islam harus bangkit! Tekad itu dan istilah kebangkitan memang mulai menyebar semenjak dicanangkannya abad 15 hijriah sebagai abad kebangkitan Islam. Tapi apa yang disebut bangkit atau kebangkitan, agaknya beragam orang memahaminya. Syekh Taqiyyudin an-Nabhani dalam kitab Nidzam al-Islam, menyatakan bahwa kebangkitan hakiki adalah kenaikan taraf berfikir (al-irtifa’u al-fikry) umat yang dimulai dengan perubahan pemikiran (taghyiru al-afkar) secara mendasar (asasiyan) dan menyeluruh (syamilan) menyangkut pemikiran tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, serta hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya. Pemikiran yang membentuk pemahaman (mafahim) akan berpengaruh pada tingkah laku. Tingkah laku Islamy akan terujud bila pada diri seorang muslim tertanam pemahaman Islam. Dengan demikian kebangkitan umat Islam adalah kembalinya pemahaman seluruh ajaran Islam ke dalam diri umat dan terselenggaranya pengaturan kehidupan masyarakat dengan cara Islam (Mafahim Dakwah LDK, 1988). Untuk itu diperlukan dakwah. Dan dakwah di tengah kemunduran umat seperti sekarang ini akibat tidak adanya kehidupan Islam, haruslah berupa “dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam” (da’wah li isti’nafi al-hayati al-Islamiyah).

Jika revolusi tahap pertama merupakan pembebasan umat dari belenggu penjajahan fisik, maka revolusi tahap kedua bertujuan membangun kesadaran Islam (al-wa’yu al-Islamy) di tengah peperangan pemikiran tadi. Yakni kembalinya identitas, khazanah dan pemikiran Islam ke dalam diri kaum muslimin, setelah terbukti imitasi terhadap ideologi Barat bukan saja gagal dari segi konsepsi, juga tidak memberikan hasil positif dari segi praktis lahir maupun batin bagi kehidupan umat Islam. Revolusi tahap kedua digerakkan menuju terwujudnya kehidupan Islam sejati.

Dakwah melanjutkan kehidupan Islam bertujuan untuk ‘audatu al-muslimin ila al-’amal bi jami’i ahkami al-Islam. Atau, mengembalikan kaum muslimin kepada pengamalan seluruh hukum Islam di bidang ‘aqidah, ibadah, akhlaq, makanan, minuman, pakaian, muamalah (politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya).

Dari segi individu, dakwah atau pembinaan kepada umat bertujuan untuk membentuk seorang muslim yang berkepribadian Islam. Yakni seseorang yang berpikir dan bertindak secara Islamy. Ia tidak berpikiran kecuali sesuai dengan ajaran Islam, dan tidak bertindak kecuali sesuai dengan syariat Islam. Harus ditanamkan kepada umat pemahaman aqidah yang benar dan kuat beserta segenap konsekuensi dari orang yang telah beraqidah Islam, yakni taat pada syariat (4:65/33:36/59:7). Juga, ditanamkan pemahaman atas syariat Islam itu sendiri, agar dengannya ia mengerti apa tujuan hidup ini, bagaimana menjalaninya; serta bagaimana misalnya, ia harus menjalankan ibadah dengan baik, memilih pakaian yang benar, makanan yang halal, bergaul secara Islamy, dan bermuamalah secara syar’iy. Ia bertindak Islamy di masjid, demikian juga semestinya ketika ia berada di kantor, di pasar dan di jalan-jalan. Ia Islamy ketika shalat, begitu semestinya ketika berdagang, ketika bergaul dengan orang lain. Lebih jauh lagi, pembinaan itu diharapkan menyadarkan umat bahwa seharusnya masyarakat ini diatur dengan Islam.

Dari segi komunitas, pembinaan kepada umat bertujuan agar dari muslim yang berkepribadian Islam terbentuk kekuatan dan dorongan untuk melakukan perubahan masyarakat ke arah Islam dan menegakkan masyarakat Islam. Hanya dalam masyarakat Islam saja seluruh hukum Islam dapat ditegakkan, saatmana kerahmatan yang tertuju bukan hanya bagi umat Islam tapi juga mereka yang beragama selain Islam, karena memang Islam membawa rahmat bagi sekalian alam (21:107), akan terasakan.

Tidak adanya, atau tidak sempurnanya pembinaan terhadap umat hanya akan menghasilkan kepribadian yang tidak utuh. Ia muslim tapi tidak shalat, bahkan dengan mudah menggadaikan kemuslimannya demi sebungkus supermi atau wanita yang dicintainya. Tidak sedikit kita jumpai orang Islam yang dengan ringannya meninggalkan shalat, tidak menunaikan zakat dan melalaikan puasa Ramadhan. Atau, kalau ibadahnya bagus tapi tidak atau kurang memperhatikan aturan Islam di bidang lain. Seolah Islam hanya mengatur masalah ibadah, dan keislamannya terbatas hanya pada masalah ibadah saja. Di luar itu, ia merasa bebas berbuat. Ia misalnya, rajin shalat tapi juga rajin makan riba. Ia bangga dengan titel hajinya, tapi bangga pula dengan pemikiran sekulernya; atau bangga dengan kecantikan rambut dan tubuhnya yang dibiarkan terlihat orang lain. Ketika di Mina ia melempar jumrah sebagai simbolisasi perlawanan terhadap setan, tapi sepulang dari Mina ia menjadi teman, bahkan budak setan. Ia menentang gerakan pemurtadan, tapi menentang pula gerakan yang akan menegakkan syariat Islam. Ia bangga dengan kemuslimannya tapi tidak gelisah sedikitpun tatkala demikian banyak aturan Islam yang ditinggalkan, atau kita tidak risih melihat kehidupan diatur dengan hukum yang tidak bersumber dari agama yang dipeluknya itu. Ia tahu bahwa sesama muslim bersaudara, tapi tak sedikitpun ia peduli atas pembantaian muslim Bosnia, Chechnya dan sebagainya. Bila demikian, lantas dimana makna ikrar “shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah semata Tuhan semesta alam,”juga kekaffahan yang diminta Al-Quran?

Pembinaan kepada umat yang tidak sempurna juga akan menghambat terbentuknya kehidupan Islam. Karena umat itu sendiri yang akan menjadi batu penghalang upaya ke arah sana. Siapa lagi yang berani menghalangi proses Islamisasi apalagi di negeri dimana umat Islam mayoritas, bila bukan dari kalangan umat Islam sendiri (dengan berbagai argumen batil) atau kalangan non Islam dengan lidah dan tangan (tokoh) umat Islam.

Isu “plularisme,primordialisme,fundamentalime,” dan sebagainya, selama ini ternyata dilontarkan oleh tokoh-tokoh Islam. Dan sasarannya tidak lain adalah kelompok Islam yang dinilainya “mengandung semangat Islamisasi”. Kepala Sekolah yang dulu menghambat jilbab di SMA, ternyata juga muslim.

Sementara, tanpa Islam bisakah kita berharap munculnya tatanan kehidupan yang baik? Atau, bisakah kita berharap mendapat kebaikan dari agama Islam yang diyakini datang untuk membawa rahmat tanpa mewujudkan Islam dalam pengaturan kehidupan nyata? Bila tidak, mengapa kita masih suka berlama-lama hidup dalam kejahiliahan seperti sekarang ini? Satu sisi kita mengeluh: hidup makin susah dan makin tidak aman, harga apa-apa naik, kemaksiyatan merajalela, remaja makin brutal, birokrat makin tidak bisa diharap, di dunia luar kaum muslimin dibantai di mana-mana dan sebagainya; tapi di sisi lain mengapa kita mendiamkan begitu saja agama Islam teronggok bagai barang antik tidak direalisasikan dalam kehidupan nyata? Itu sama saja dengan seseorang yang marah-marah ketika tubuhnya didera penyakit, tapi obat ditangan hanya dilihat-lihat saja. Mana bakal sembuh?

Rasulullah pernah bersabda, “Empat puluh mukmin sejati yang bersatu padu dapat menggoncangkan seluruh dunia”. Dulu, Rasul seorang telah mengubah dunia. Kini umat Islam berjumlah 1 milyar lebih, apa yang bisa digoncang?. Tidak ada. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain umat Islam harus bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk menegakkan kembali bangunan Islam. Dan itu mungkin perlu waktu yang tidak sebentar. Sebab sesuatu yang sudah hancur dalam waktu yang cukup lama, secara sunatullah perlu waktu lama pula untuk membangunnya kembali.

Pada era perang fisik, kita terjun dengan membawa senjata yang dilengkapi dengan berbutir-butir peluru dan mesiu. Tapi kini yang kita hadapi bukan perang fisik tapi perang pemikiran. Maka semestinya kita terjun sebagai pasukan Islam dengan menembakkan peluru pemikiran Islam, memerangi musuh yang membawa peluru pemikiran sesat. Mulut dan tangan adalah senjata kita, dengan kantong peluru berupa pemahaman Islam yang shahih di otak kita. Sebagaimana Rasulullah membangun peradaban Islam dengan mulutnya. Mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam. Dalam perang ini musuh Islam menggunakan segenap tenaga dan upaya (jaringan birokrasi, media massa dan sebagainya), maka diperlukan lebih banyak lagi pasukan Islam yang bergerak di tengah umat untuk menyadarkan umat dari tidurnya yang panjang. Hanya melalui umat yang sadar saja bisa diharapkan kebangkitan umat yang hakiki berupa tegaknya kehidupan yang Islamy di bawah naungan Daulah Islamiyah. Ingatlah janji Allah,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukarkan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur: 55)

Dalam ayat ini Allah berjanji kepada siapa saja yang beriman dan beramal saleh, berjuang mewujudkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, akan memberikan kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia di dunia dan meneguhkan agama Islam. Artinya, agama Islam akan tegak, syariat Islam akan terealisasi, yang semua ini akan menjamin keadaan masyarakat menjadi tenteram, damai dan sejahtera menggantikan situasi yang penuh penderitaan dan ketakutan seperti sekarang ini. Pada saat seperti itulah, predikat umat Islam sebagai khairu ummat akan terwujud. Insya Allah!



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: